Faris Bobero, dibesarkan dari keluarga buruh di Tobelo, Halmahera Utara. Anak
ketiga dari lima bersaudara. Masa kecilnya dihabiskan di jalan ketika konflik
horizontal melanda Maluku Utara pada tahun 1999 hingga memaksanya mengungsi ke
Makassar (Ujung Pandang saat itu).
Di Makassar, Faris melanjutkan pendidikan
dasar di MI YASPI Sambung Jawa Makassar dan Lulus pada tahun 2000. Akibat orang
tuanya kehilangan mata pencarian, keluarganya memilih balik ke Ternate.
Faris
pun melanjutkan pendidikan SMP di Ternate. Saat itu dibuka SMP N 1 Tobelo
Alternatif di Ternate. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi para pengungsi.
Setelah konflik reda, pada 2003 mereka memilih balik ke kampung halaman,
Tobelo. Saat itu pula, ayahnya tidak lagi mendapat pekerjaan sebagai Tenaga
Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Tobelo. Dengan alasan, ayahnya tidak
memiliki ijazah SD-SMA. Selain itu, posisi ayahnya yang dulu sebagai mandor
telah diganti orang lain. Kini, ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan. Hingga
pada tahun 2006, Faris lulus pendidikan SMA di
Madrasah Aliyah Alkhairaat Tobelo.
Biaya sekolahnya didapat dari hasil kerja di
warung Coto Makassar di Tobelo. Mulai dari itu, pemilik warung Coto Makassar di
Dufa-Dufa, yang juga menjadi orang tua angkatnya menyarankan agar Ia
melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Kota Ternate.
Faris melanjutkan studi
di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) pada tahun 2006 dan lulus pada
tahun 2012. Ia memilih tidak mengambil ijazah. Ia berkeinginan berpergian ke
daerah-daerah sambil belajar dan menulis catatan. Keinginan akan belajar
menulis terus ia tekuni, hingga pada 2012, ia sempat mengikuti pendidikan
wartawan di salah satu media massa di Jakarta. Kontak: farisbobero@yahoo.com.





